030226800_1450849485-lingerie_edit_1

Liga Sepak Bola Lingerie Mendapatkan Kecaman, Seperti Apa Bentuknya?

Berita-prediksibola – Wags : Walau belum begitu tenar atau terkenal seperti sepak bola pria, sepak bola wanita terus ikut berkembang. Keterampilan wanita di dalam mengendalikan bola juga terus meningkat membuat pertandingannya semakin menarik.

030226800_1450849485-lingerie_edit_1

Di Inggris, sejumlah pelatih sepak bola wanita berusaha untuk membawa sepak bola wanita ke level yang lebih menghibur. Caranya dengan menggabungkan keindahan permainan dengan keindahan badan dari pemain melalui Liga Sepak Bola Lingerie yang digelar di Manchester.

Turnamen ini digagas Gemma Hughes. Melalui turnamen ini, Hughes ingin melawan ketidak seimbangan jenis kelamin dan untuk meningkatkan kesadaran atas kesenjangan besarnya berdasar gender dalam sepak bola.

Seperti dikabarkan Sun, para pemain nanti akan menggunakan busana minim mirip dengan para pemain voli. Tujuan adalah untuk lebih menonjolkan sisi kewanitaan pemain. Pertandingan pertama akan diadakan di atap Hotel Football milik mantan pemain Manchester United yang tergabung dalam Class of 92, Phil Neville, Gary Neville, Nicky Butt, Paul Scholes, dan Ryan Giggs.

Tapi tentu tidak akan mudah untuk Hughes mewujudkan gagasan itu. Karenanya usahanya malah dianggap menjadi salah satu bentuk eksploitasi terhadap wanita dan dianggap menjadi kemunduran.

Tracey Halpin, pelatih Denton Phonix Girl salah satunya. Menurutnya, Sepak Bola Lingerie itu sama sekali tidak berikan kesan baik untuk wanita muda yang mana ingin ambil bagian dalam olahraga ini. “Saya pikir beberapa alasannya adalah tidak begitu jauh dengan seks,” jelas Halpin.

“Apalagi alasan pria datang adalah melihat perempuan bermain dengan lingerie? Saya tidak akan menyaksikannya.”

Penolakan juga datang dari pihak Tony Farmer. Pria yang rajin mempromosikan sepak bola wanita sejak 1992 itu juga minta supaya para pemain Class of 92 seperti Phil Neville, Gary Neville, Nicky Butt, Paul Scholes and Ryan Giggs berubah pikiran serta menolak hal ini.

Demi mendapat dukungan atas penolakan ini, Farmer juga menggalang petisi melalui situs change.org. Sampai dengan saat ini, gerakan tersebut sudah meraih 500 dukungan.